Showing posts with label PMIIKOMNIVPAM. Show all posts
Showing posts with label PMIIKOMNIVPAM. Show all posts

Dec 4, 2019

KOPRI


1. Selayang pandang sejarah KOPRI

Pada saat PMII didirikan KOPRI memang belum ada, yang ada hanya divisi keputrian. Hal ini bukan berarti bahwa peran perempuan dianggap tidak besar, melainkan lebih dikarenakan kepraktisan semata. Maksudnya dalam divisi keputrian ini dikalangan perempuan bisa lebih fokus memusatkan perhatiannya menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan dunianya. Meskipun saat itu dunia perempuan masih terbatas pada menjahit, memasak dan dapur

Dalam divisi keputrian tadi, yang menangani semua permasalahan didalamnya tentu saja harus perempuan, meskipun demikian tidak menutup kemungkinan perempuan menempati struktur di PMII. Akan tetapi karena kesiapan SDM dan profesionalitas perempuan yang kurang, menyebabkan jumlah mereka secara kuantitas masih sedikit. Hal ini dapat dimaklumi, karena saat itu masih sedikit perempuan yang melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, Kondisi yang terjadi saat itu antara perempuan dan laki-laki saling guyub dalam pengambilan keputusan dan beberapa hal yang mengharuskan mereka bekerja sama mempertaruhkan nama organisasi. 

Lahirnya KOPRI berawal dari keinginan kaum perempuan untuk memiliki ruang sendiri dalam beraktifitas, sehingga mereka dapat bebas mengeluarkan pendapat atau apapun. Keinginan tersebut didukung sepenuhnya oleh kaum laki-laki saat itu. Corps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Poetri (COPRI) lahir pada tanggal 25 November 1997 di Semarang, dengan status semi otonom. Ini merupakan follow up atas dilaksanakannya Training Kursus Keputrian di Jakarta pada tanggal 16 februari 1966 yang kemudian melahirkan Panca Norma KOPRI. Selain itu alasan adanya KOPRI adalah sebagai upaya guna peningkatan partisipasi perempuan serta pengembanagan wawasan wilayah-wilayah kerja sosial kemasyarakatan.

Walaupun KOPRI merupakan bagian dari komunitas NU da saat itu masih menjadi partai, tetapi tidak ada kaitannya sama sekali. Dengan terbentuknya KOPRI baik itu asalan politis, kepentingan sesaat, maupun tunggangan ideologi, sekalipun NU merupakan parpol. Pada tanggal 28 Oktober 1991 saat kepemimpinan sahabati KHofifah ditetapkan Nilai kader KOPRI dan pada saat itu pula kaderisasi KOPRI telah dibemtuk pola pengkaderan yang sistematis, yaitu dibentuk sistem kaderisasi yang terdiri dari kurikulum dan pedoman pelaksanaan LKK (Latihan Kader KOPRI) serta petunjuk pelaksaan LKK. 

Secara struktural KOPRI dalam institusinya berstatus semi otonom atau bagian integral dan tidak terpisahkan dari wadah utamanya yaitu PMII. lewat semua itu, KOPRI banyak belajar dan menyadari betul tentang perlu adanya seorang pemimpin yang memiliki kemampuan dan performance pemimpin sangat mempengaruhi gerak dan aktifitas organisasi. Klaim tentang kesadaran gender pada PMII membangun argument asi KOPRI haruslah di bubarkan, karena KOPRI mengakibatkan eksklusifitas perempuan di PMII. Organisasi perempuan sebagai subordinat organisasi lain dianggap memberi legitimasi terhadap stereotyp perempuan sebagai makhluk sobordinat dan kontra produkif

Pada Kongres XIII di Medan tahun 2000 KOPRI dibubarkan dikarenakan pengaruh dari euforia gerakan kesadaran gender. Selama ini kita merasakan tampak kesenjangan-kesenjangan tidak hanya kader laki-laki dan perempuan, tetapi juga antar daerah. Pembubaran KOPRI yang tidak dibarengi dengan usaha institusionalisasi yang serius ke arah penataan kelembagaan mengakibatkan luluh lantahnya kader-kader putri kembali kepada titik nol. Hal ini mengakibatkan munculnya kecurigaan bahwa pembubaran KOPRI ibarat perang kader putri yang menang dilemahkan berangkat ke medan kontestasi. 

Berdasarkan forum musyawarah yang diamanatkan oleh Kongres XIV di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur maka dibuatlah sebuah pertemuan POKJA perempuan PMII pada tanggal 26-29 September 2003 di jakarta yang menghasilkan ketetapan bahwa dibentuk kembali wadah perempuan bernama KOPRI yang merupakan bagian integral dari PMII. PB KOPRI berpusat di Jakarta, dengan visi terciptanya masyarakat yang berkeadilan berlandaskan kesetaraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaa. Sedangkan misinya adalah mengidiologisasikan gender dan mengkonsolidasikan gerakan perempuan di PMII untuk membangun masyarakat berkeadilan gender. 

2. Panca Norma KOPRI 

Panca Norma KOPRI dicetuskan pada tanggal 16 februari 1966 pada saat pelaksanaan Training Course Keputrian I PMII di Jakarta bersamaan dengan diadakan Mukernas I yang berisi sebagai berikut 
a. Tentang Emansipasi 
b. Tentang Etika Wanita Islam
c. Tentang watak PMII Putri dalam kesatuan dan Totalitas beroganisasi
d. Tentang partisipasi PMII putri terhadap Neven-neven organisasi
e. Tentang Partisipasi PMII putri terhadap kegiatan-kegiatan masyarakat

3. Nilai Kader KOPRI 

Nilai kader KOPRI atau biasa disingkat NKK merupakan sebuah sarana kader KOPRI untuk mengenal, melihat dirinya sendiri dan bahkan mengharapkan yang lain untuk melihat. NKK juga merupakan potret yang diharapkan. Fungsi dari NKK yaitu 
  • Sebagai justifikasi terhadap tertib sosial dan tertib organisasi yang mensyaratkan pada anggota untuk menerima 
  • Sebagai konstruk yang sah dan dianggap viral secara moral nebgikat, Jadi setiap tindakan harus berada di balik legitimasi NKK
  • Mampu menumbuhkan"sens of belongings" warga terhadap organisasi yang mempertautkan kolektifitas masa lampau sekaligus diarahkan pada masa depan sebagai pengidentifikasian diri terhadap lingkungan yang selalu berubah
  • Sebagai pedoman yang memberikan wawasan mengenai misi dan tujuan organisasi sekaligus merupakan komitmen untuk bertindak
Berangkat dari pemikiran diaras maka NIlai-Nilai Kader KOpri dirumuskan sebagai berikut :
a. Modernisasi
b. Mitra sejajar
c. Wanita Ideal
d. Watak Kopri 

Diatas adalah sedikit yang bisa kita sharing tentang KOPRI yah sahabat-sahabati, kalau ada yang salah dan kurang mohon diingatkan, Kalau ada yang kurang jelas sahabt-sahabati bisa tanya ke KOPRI tiap-tiap pengurus baik komisariat, cabang, PKC ataupun PB. 

Dec 19, 2018

Arti Nama dan Lambang PMII

Arti Nama PMII
Makna “pergerakan” yang terkandung dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya, yaitu memberikan rahmat bagi alam sekitarnya. Dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa, “pergerakan” menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan potensi kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas tinggi yang mempunyai identitas diri.

Pengertian “mahasiswa” yang terkandung dalam PMII adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dinamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

Sementara “Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma Ahlussunah wal Jama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, Islam, dan Ihsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif adalah platform PMII. PMII juga menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Baginya, keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).

Pengertian
“Indonesia” yang terkandung dalam PMII adalah masyarakat bangsa dan negera Indonesia yang mempunyai falsafah ideologi bangsa (Pancasila dan UUD 1945 dengan kesadaran kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang diikat dengan kesadaran wawasan Nusantara.

Pada kongres PMII ke-9 di Surabaya, beberapa kader PMII mewacanakan nama PMII berubah menjadi Pergerakan Mahasiswa Republik Indonesia dengan alasan simbol-simbol ideologi keagamaan yang melekat pada organisasi kader, sangat tidak mendukung perjuangan kebangsaan. PMII sebagai organisasi kader bangsa hendaknya berpikir strategis dalam spektrum kebangsaan.
Padahal, sejak kelahirannya PMII telah mengedepankan misi keindonesiaan. Hal ini terwujud dalam mukaddimah AD/ART PMII ideologi negara falsafah Pancasila, menjadi kewajiban setiap warga negara, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama untuk mempertahankan dan melaksanakannya dengan segala tekad dan kamampuan. Gagasan perubahan nama ini pun tidak diterima oleh forum kongres karena forum masih menginginkan adanya identitas Islam di dalam organisasi yang didirikan oleh NU ini. 

Secara totalitas PMII sebagai organisasi merupakan suatu gerakan yang bertujuan melahirkan kader-kader bangsa yang mempunyai integritas diri sebagai hamba yang bertakwa kepada Allah SWT dan atas dasar ketakwaan berkiprah mewujudkan peran ketuhanannya membangun masyarakat bangsa dan negera Indonesia menuju suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur dalam ampunan dan ridla Allah SWT.

Arti Lambang PMII
Lambang PMII diciptakan oleh H. Said Budairi. Bentuk Perisai berarti ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar. Bintang yang bertabur di dalamnya melambang ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.

Lima bintang sebelah atas menggambarkan Rasulullah SAW dengan empat sahabat terkemuka (al-Khulafaur Rasyidun). Sedangkan empat bintang sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang berhaluan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Jumlah sembilan bintang dalam lambang itu dapat berati ganda. Pertama, Rasulullah dan empat orang sahabat serta empat orang imam mazhab itu laksana bintang yang selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan tinggi, dan penerang umat manusia. Kedua, angka itu juga menggambarkan sembilan orang pemuka penyebar Agama Islam di Indonesia yang disebut Walisongo.

Adapun warna biru pada tulisan PMII menunjukkan kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan digali oleh warga pergerakan. Biru juga menggambarkan lautan Indonesia yang mengelilingi kepulauan Indonesia dan merupakan kesatuan wawasan Nusantara.

Biru muda yang menjadi warna dasar perisai sebelah bawah berati ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti, dan takwa. Sementara kuning sebagai warna dasar perisai bagian atas berarti identitas kemahasiswaan yang menjadi sifat dasar pergerakan lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan. (Ensiklopedia NU)



Dec 14, 2018

PMII Unpam Diharapkan Jadi Motor Penggerak Mahasiswa untuk Bantu Lombok


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Pamulang (Unpam) menyerahkan dana bantuan untuk warga terdampak gempa bumi di Lombok, NTB. Bantuan diserahkan langsung melalui NU Care-LAZISNU, Selasa (7/08) malam.
Manajer Fundraising NU Care-LAZISNU, Nur Rohman menanggapi, bantuan para mahasiswa PMII sebagai unsur NU sangat diperlukan untuk penanganan pascagempa NTB. 
“Bantuan akan sangat bermanafaat karena NU melaui program NU Peduli Lombok, tidak hanya bantuan rescue (pertolongan awal), namun juga recovery (pemulihan kembali), dan development (membangun kembali),” katanya.
Ia memuji semangat PMII Unpam sebagai motor penggerak dari lingkungan mahasiswa. 
Sementara Koordinator penggalangan dana, Ahmad Sohifin mengatakan, bantuan merupakan hasil penggalangan dana selama tiga hari pada Kamis, Jumat dan Ahad pekan lalu. Penggalangan dana tersebut sebagai kepedulian PMII Unpam atas bencana gempa bumi yang menimpa tanah NTB.
“Kami merasa penderitaan yang mereka alami adalah tanggung jawab dan penderitaan kita sebagai sesama muslim dan sesama  warga Indonesia,” kata mahasiswa semester IV Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia.
Ia merinci, penggalangan dana dilakukan di lampu merah perempatan Gaplek, perempatan Muncul dan di area Car Free Day (CFD) di Situgintung, Ciputat, Tangerang Selatan.
Darsa, mahasiswa lainnya mengharapkan agar langkah mereka dapat menginspirasi mahasiswa dan anggota PMII lainnya untuk peduli dan menolong korban bencana di Lombok.
“Setelah ini, PMII Unpam berencana bergabung dengan organisasi ekstra dan kampus lainnya untuk melakukan peggalangan dana,” ujarnya.
Bantuan PMII Unpam akan digabung dengan bantuan NU secara keseluruhan yang ditargetkan bernilai satu miliar rupiah