Oct 30, 2019

Pengabdian yang tak Berujung


Bagi beliau ini semua masalah tanggung jawab dunia dan akhirat yang harus beliau penuhi ..................................

Hempasan  Angin masih meliak-liuk menggoyangkan ranting-ranting dan dedauan pohon, tanpa peduli angin itu terus menerjang apa yang dilaluinya sehingga tanpa sadar daun-daun yang sudah tua berterbangan dan jatuh ketanah, Ranting-ranting pohon masih terlihat menari-nari belum ada cuitan burung yang terdengar, hanya suara-suara serangga yang saling bersautan, Suasana masih Sepi dan sunyi.

Bulan masih terlihat sangat jelas menerangi hamparan-hamparan tanaman padi ditemani bintang–bintang yang entah berapa jumlahnya, bayangan lambaian-lambaian pohon kelapa di tepi sawah masih terlihat jelas, entah apa yang terjadi jika angin itu bisa menampakan diri, hanya dengan merasakanya saja terasa ghaib, seakan tak peduli pagi sore siang dan malam angin itu masih berjalan dan melihat–lihat yang berada di sekelilingnya, para angin berusaha berjalan menuju ketengah desa namun dari mereka banyak yang gagal karena menabrak pepohonan, daun-daun dan tembok rumah warga yang berada dipinggir Sawah.

Menuju Waktu Shubuh angin mulai bangun dari tidurnya membantu angin-angin yang kebetulan malam itu terjatah untuk berjaga, mereka menyadari bahwa dengan bergabung dengan yang lain mereka bisa menyentuh kulit manusia yang berada di tengah-tengah desa itu, seperti biasa waktu mau shubuh dimusim seperti ini merekalah yang terjatah membangunkan orang-orang desa.

Sungai yang mengelilingi desa ini Masih terus berjalan tanpa memperdulikan apa yang telah mereka lalui malam itu, karena bagi mereka sama saja, diwaktu yang sama dan tempat yang sama mereka hanya melihat jembatan Biru yang melintangi sungai itu, mereka sebenarnya agak risih dan marah kepada manusia.

 “Mengapa mereka membuang sampah di tempat aku mengalir sehingga teman-temanku merasa tidak betah disini, Ah !!! biarlah mereka juga tidak peduli padaku, giliran perbuatan mereka yang menahan teman-temanku dan teman-temanku masuk ke desa mereka, mereka mencaci aku dan teman-temanku”


Air pun masih terus melanjutkan perjalanannya yang akan mereka tuju adalah muara di Laut, sembari berjalan mereka masih melihat-lihat kanan kiri atas dan bawah, disebelah kanan dan kiri masih seperti biasa hanya ada pepohonan dan kawan-kawannya yang masih setia disitu sembari menjaga sungai, kadang juga terlihat rumput-rumput yang terlihat berwarna hijau yang terkena sinar lampu rumah milik warga malam hari, diatas bisa melihat gumpalan-gumpalan awan dan dibalik itu terdapat bulan yang terlihat malu-malu di tutupi gumpalan lalu lalang awan , bulan itu nampak di temani bintang-bintang. Hilir sana-sini air merasakan ikan-ikan mulai berenang untuk mencari makan.

Kukuruyyuuukkk !!! Kukuruyyuuukkk !!! Kukuruyyuuukkk !!! Kukuruyyuuukkk !!!
Salah satu dari Gabungan angin itu akhirnya berhasil membangunkan Hewan-hewan Peliharaan milik warga dari seluruh penjuru desa, Salah satunya adalah ayam jantan milik Pak Daud. Tepatnya di Dusun Mertelu. Berkali-kali Ayam itu Berkokok akhirnya membangunkan Pak Daud dari tidurnya, dengan malas dan masih lemah Pak Daud Bangun dari tidurnya dan melihat jam.
“Alhamdulillah waktu menunjukan pukul 04.00 Wib, masih bisa untuk Sholat qobliyah Shubuh (Shubuh Pukul 04:34 Untuk daerah Cilacap dan Sekitarnya”.

Pak Daud pun langsung menuju kekamar mandi untuk melaksanakan Wudhu, nampaknya Airnya cukup dingin yang membuat badan pak Daud menggigil, Pak Daud pun selesai melaksanakan Sholat Qobliyah dan Shubuh, selesai sholat kemudian beliau membaca wirid, diakhir wirid beliau terlihat nampak murung dan matanya berkaca-kaca, ternyat beliau teringat 50 tahun yang lalu ketika istrinya masih hidup dan baru mempunyai anak satu yang kebetulan berumur satu tahun lebih, dimana saat itu anak laki-lakinya itulah yang membangunkannya dengan tangisan manja ketika mau Shubuh, dan setiap Habis sholat shubuh berjama’ah dirumah, Istrinya memasak nasi dan memandikan anak laki-lakinya itu, beliau bersiap-siap merapihkan buku yang dipelajarinya semalam, untuk bersiap menuju ke Sekolahan mengajar dan mendidik siswa dan siswi MTs Nailul Anwar Kesugihan.

 Beliau mengampu Mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan. Masih teringat didalam memorinya bagaimana suasana 50 tahun yang lalu itu. Sudah Hampir 50 tahun beliau Mengajar diberbagai sekolah dan kebetulan terakhir di MTs ini, sehigga rasa garam dan rasa gula pun beliau sudah merasakan berkali-kali.

Diumurnya yang sudah menginjak 75 Tahun Beliau kini masih aktif mengajar karena beliau pernah bercita-cita menjadi seorang Guru dan akhirnya tercapai setelah Umur beliau 29 Tahun, beliau sangat meneladani dan terispirasi dari Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yang jasanya bisa diingat dan menjadi sejarah bagi bagsa, walaupun hanya gelar Pahlawan Tanpa tanda jasa beliau tetap senang dan bahagia, karena kecintaan beliau terhadap pendidikan tak di ragukan lagi,  juga ini sebagai pengabdian beliau untuk negeri tercinta dan untuk masyarakat Indonesia yang membutuhkan pendidikan.

Sebenarnya beliau tak punya keinginan untuk disanjung maupun diPuji oleh orang karena kesetiaannya menjadi guru, bagi beliau ini semua masalah tanggung jawab dunia dan akhirat yang harus beliau penuhi, kini beliau Hidup hanya sebatang kara dikarenakan anaknya meninggal dunia 20 tahun yang lalu karena Kecelakaan dan istrinya pun sudah meninggalkan beliau sejak umur 30 tahun karena serangan Jantung, entah apa yang ada dalam benaknya sehingga di umur yang bisa memungkinkan untuk menikah lagi, tapi beliau tidak menikah, entah karena Cintanya yang besar terhadap istri atau karena trauma, entahlah hanya pak Daud yang tau.

 Tanpa terasa Lamunan itu membuat air mata Pak Daud keluar cukup deras, namun beliau kemudian terbangun dan segera memasak untuk sarapan, beliau masih sangat bersemangat untuk mengajar dan mendidik siswa-siswi di MTs itu, mungkin ini alasan Pak Daud untuk tidak menikah lagi, karena kebahagiaannya melihat siswa-siswi disekolahannya, dan rasa kangen terhadap anak didiknya sebentar lagi akan terobati di Sekolah.

Waktu sudah menunjukan Pukul 05:55 Saatnya pak Daud Berangkat kesekolahan dengan sepeda kesayangannya yaitu sepeda tua yang mungkin untuk zaman sekarang sudah menjadi sepeda yang antik. Rasa bangga dan bahagia itu kembali timbul setelah mengayuh beberapa saat, ketika  beliau melihat siswi SD mencium tangan Ibu dan Bapaknya berpamitan untuk berangkat sekolah.

 Namun disisi lain beliau pun agak terharu karena ingat anak beliau yang sudah meninggal, persis anaknya dulu seperti itu ketika berpamitan dengan beliau, jarak yang lumayan jauh dari tempatnya mengajar tidak membuat Pak Daud berhenti mengabdi, kecintaannya terhadap Pendidikan yag membuat beliau terus bersemangat beliau ingin menyampaikan ilmu yang dia dapat untuk murid-muridnya agar lebih baik darinya dan mencapai cita-citanya menjadi orang yang berguna.

Pak Daud masih terus mengayuh sepedanya dengan penuh semangat dengan membawa harapan agar anak didiknya bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan orang tua khususnya, berguna buat bangsa umumnya, dikayuhannya kali ini beliau melintasi persawahan yang sudah mulai panen, kebetulann sudah banyak para petani yang berada disawah itu untuk memetik hasil panennnya, sesekali Pak Daud menyapa para Petani.

Dijalan tengah sawah itu berdiri begitu banyak pohon yang seolah-olah menyambut kedatangan Pak Daud dengan segala kesederhanaannya, pohon itu besar-besar dan kurang lebih berumur 10 tahunan lebih, para pohon saling bercengkrama akrab di bagi hari itu, tak peduli dengan burung-burung yang hinggap ditubuhnya dan cuitan-cuitan anak burung yang sudah terbangun dari tidur semalam, nampaknya para pohon itu menyukai orang-orang yang berlalu lalang untuk melaksanakan aktivitasnya masing-masing, termasuk Pak Daud.

“Aku sudah hampir 10 tahun melihat dia lewat sini dan wajahnya masih sangat cerah, walaupun sudah tua kira-kira dia siapa ya, masih dengan sepeda yang sama persis??” begitu ucap pohon

Pak Daud masih mengayuh sepedanya dengan stabil sesekali beliau melihat pemandangan-pemandangan yang diberikan Allah swt lewat luasnya sawah dan hamparan padi yang sudah siap Panen. tak habis fikir beliau dalam benaknya mengapa negeri yang kaya raya ini belum sepenuhnya merdeka, dia selalu berharap supaya generasi muda bisa hidup Sejahtera dan bahagia di masa depan nanti, dan masih bisa menikmati sumber daya alam Indonesia yang diberikan oleh Allah swt yang melimpah ini.

Dikejauhan tepatnya sebelah Timur sudah mulai terlihat cahaya kekuningan nampaknya matahari sudah terbangun dan siap menjalankan tugas sehari-harinya memberi cahaya pada Bumi dan untuk memberi penghidupan kepada penghuni bumi ini, burung-burung disawah pun mulai berkicau dan berterbangan kesana kemari menyambut kehadiran matahari yang menandakan bahwa hari sudah pagi.

Embun-embun pagi sudah mulai berguguran dan menghilang entah kemana atau mungkin mereka bersembunyi untuk beristirahat menunggu malam datang lagi. dari kejauhan juga Pak Daud mendengar suara hewan peliharaan-peliharaan tetangga, yang saling bersahutan, ada Ayam, Burung, Bebek, Kambing Dll.

Tidak hanya suara yang beliau dengar, nun jauh disana nampak terlihat ada pasukan baris berbaris dari ratusan bebek milik warga sekitar yang tengah berjalan ditengah-tengah sawah yang padinya sudah dipanen, seketika juga melihat gerumbulan ayam dengan anaknya yang kira-kira berjumlah 10 ekor sedang mencari makan.

Udara pagi menghempas tubuh pak Daud yang sudah nampak mulai keluar keringat, kayuhan sepedanya sudah mulai melambat gerangan beliau melewati jembatan panjang Sungai Serayu yang menjadi batas dan penghubung antara Kecamatan Kesugihan–Maos, begitu jernih air itu mengalir sembari membentuk gugusan-gugusan ombak kecil yang saling berkejaran diperindah dengan hamparan luas sungai, pohon dan kebun-kebun nan hijau ditepi sungai, burung-burung berterbangan diatas sungai yang mungkin sedang mencari makan, terkadang ada burung yang hinggap di beton-beton dan besi-besi jembatan rel Kereta Api kemudian terbang lagi, di ujung sana terlihat muara sungai yang begitu luas dan terlihat banyak kapal nelayan dimuara itu.

Dibawahnya pak Daud persis ada perahu para pencari pasir tengah beraktivitas, tak lama kemudian datanglah kereta api yang melintasi jembatan sungai serayu itu dengan suara khasnya. Setelah berhasil melintasi jembatan sungai serayu akhirnya beliau sampai kepada tempat tujuan yaitu MTs Nailul Anwar, sesekali muridnya menyapa selamat pagi kepada Pak Daud, Pak Daud pun memarkirkan sepeda tuanya kemudian bergegas menuju kekantor untuk meletakan tas dan istirahat sejenak, Ntahlah didalam kantor itu terdapat buku-buku yang sudah lama dan usang belum pernah tersentuh siapapun dan mereka ada yang menjadi saksi bisu kesetiaan Pak Daud yang sudah mengabdi hampir 15 Tahun di MTs ini.


Bel tanda masuk Sekolah pun berbunyi Pak Daud menuju kekelas paling ujung yaitu kelas 9a, beliau ada 1 mata pelajaran disana kemudian beliau mengajar di kelas 9a ,7b ,7c , bel istirahat pun berbunyi sekitar jam setengah sepuluhan, beliau tidak langsung menuju kantor namun menuju ke Masjid yang dekat dengan Sekolahan untuk melaksanakan sholat sunnah Dhuha, sebentar dia selesai sholat kemudian dia masuk kantor untuk beristiraha , hingga bel masuk pun berbunyi beliau pun segera masuk kekelas, keramahan ,kewibawaan dan humoris dari Pak Daud lah yang membuat siswa dan siswi tidak pernah bosan jika di ajar oleh beliau.

Adzan Dzuhur berbunyi dan siswa siswi terkecuali bagi perempuan yang berhalangan beristirahat untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di dekat Masjid Sekolah hal ini memang sudah dijadikan budaya oleh sekolah MTs ini, selesai sholat pun masih ada satu mata pelajaran yang harus di laksanakan dan akhirnya selesai sudah kegiatan belajar mengajar di sekolah ini.

Waktu sudah menunjukan pukul 14:30 waktunya Pak Daud untuk bergegas mendekati sepeda tuanya untuk kemudian membawanya pulang ke rumah, dalam perjalanan suasana hampir sama seperti ketika dia berangkat, hanya saja kali ini beliau terasa lebih dekat dengan matahari karena sinar mataharinya cukup panas, sesampainya dirumah beliau beristirahat sambil duduk-duduk di teras rumah, lagi-lagi Pak Daud melihat bayagan masa lalu sekitar 50 tahun yang lalu, beliau melihat bayangan Anak dan istrinya, persis yang dia kemukakan ketika lamunan sehabis wirid Sholat shubuh, anak dan istrinya sedang bercengkrama dan bercandaan dengan mainan mobil-mobilan jeep kecil yang dia simpan didalam lemari yang sampai saat ini masih ada.

 Sangking rindunya terhadap anak dan istrinya beliau mengambil foto mereka berdua, hatinya terasa begitu hancur lebur dan air matanya tak terbendunng, melihat foto anak dan istrinya yang berada di album foto tersenyum manis, seakan akan menambah rasa kangen yang sudah tak tertahankan, sehingga dia memeluk album foto itu erat-erat.
“Allahu akbar, Allahu Akbar, allahu akbar, allahu akbar”

Suara adzan menggema di Musholla ujung desa, dengan bergegas beliau mengganti baju dinas guru dengan koko dan sarung, lalu beliau berjalan ke Musholla untuk melaksanakan Sholat Ashar berjama’ah, selesai sholat dia ada niatan untuk berziarah ke makam anak da istrinya, beliau berfikir kenapa dari kemarin bayangan anak dan istrinya yang sudah berbeda dunia selalu terngiang-ngiang, mungkin mereka rindu dengan beliau tanpa perpikir panjang lagi beliau bergegas menuju ke rumah untuk mengambil sepeda tua yang kebetulan jarak pemakaman itu cukup jauh dari rumah.

Ayuhan sepeda tua yang masih terasa  Angles (Masih seperti baru rasanya) itu meluncur tanpa ada halangan, pandanngan mata Pak Daud kedepan melewati jalan-jalan kampung, persawahan bahkan peternakan, hingga tiba pada suatu tempat yaitu Pasar seketika Pak Daud pun berhenti sambil membeli buah-buahan dan melihat ke ujung pasar itu dengan penuh makna dan sesuatu yang tersembunyi, lagi-lagi tempat itu menjadi saksi bisu dan kenangan yang tidak bisa terlupakan, namun ditempat itu air mata beliau tidak keluar akann tetapi malahan tersenyum, ya ditempat itu dulu dia bertemu dengan Bu Aisyah, yang tak lan adalah istri tercintanya.

Perkenalan mereka diawali ketika Pak Daud pulang kuliah kemudia disuruh orang tuanya ke Pasar, beliau memarkirkan sepeda disitu dan kemudian bu aisyah pun tanpa sengaja mau memarkirkan motornya disitu, namun bu aisyah terjatuh dari motornya karena hilang keseimbangan dengan cepat pak Daud membantu Bu Aisyah dan berkenalan disitu.
“Semua itu hanya kenangan yang tak akan dibawa mati namun inilah kehidupan, pada dasarnya semuapun akan kembali pada-Nya”Gumamnya dalam hati.

Pak Daud melanjutkan perjalanannya yang hanya tinggal melewati Sawah disana kemudian sampai kepada makam anak dan istrinya yang ternyata letaknya juga dekat dengan sawah, karena waktu sudah semakin sore pak Daud membersihkan makam anak dan istrinya kemudian membacakan Yasin dan Tahlil, Senja itu mulai tenggelam hembusan angin persawahan terasa cukup dingin lambaian pohon Kamboja yang berdiri di pemakaman seakan mengucapkan terimakasih kepada pak Daud yang sudah berkunjung ke makam, dan senja pun mulai tenggelam dengan cahaya mega merah yang mulai memudar serangga –serangga sudah mulai bangun dan memainkan alat musik mereka menyambut malam tiba, dan pak Daud mendengar Suara Adzan, kali ini pak Daud memutuskan untuk sholat di desa tetagga.

Sepulang dari Makam dan sudah melaksanakan sholat isya di desa tetangga beliau membuka lembar jawaban anak didiknya yang kebetulan tadi pagi beliau mengadakan Ulangan harian, Secangkir kopi dan suara-suara serangga-serangga yang menemani malam pak Daud, melihat hasil ulangan anak kelas 9a yang sebentar lagi mau UN pak Daud cukup puas dan tenang, apa yang telah disampaikannya ternyata tidak sia-sia.

Paginya pak Daud mendengar kabar bahwa muridnya 25 tahun yang lalu menjadi Bupati Cilacap dan ada yang menjadi Gubernur Jawa Tengah, dengan sangat bangga dan gembira beliau sujud syukur, walaupun mungkin anak didiknya itu sudah lupa sama beliau, tapi beliau tidak pernah berfikir kesitu, yang beliau tau mereka bupati dan Gubernur yang pernah menjadi murid beliau.



M Aan Setiawan
Penulis Amatiran

Menebar Damai di Papua, Majelis Milleneal menyelenggrakan Notulensi Mouthly Talks


Sebagai wujud kepedulian dan rasa simpatik terhadap problematika saudara sebangsa di Papua, Majelis Milleneal menyelenggrakan Notulensi Mouthly Talks dengan thema Menebar Damai di Papua Merajut Persatuan Indonesia. (25/10/2019).

Acara yang diselenggrakan di Upnormal Raden Saleh, Jakarta Pusat ini mendatangkan pemateri seperti M. Muslih, MH (Sejarawan Muda),  Semmy Jenggu ( Tokoh Pemuda Papua) dan  Rizavan  Shufi Thoriqi ( Aktifis Sosial).
Dalam pemaparannya, M. Muslih, MH (Sejarawan Muda) menjelaskan berbicara Isu-isu perpecahan dan ketidak rukunan sebenarnya sudah ada sejak dahulu dimana ada pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan.

“Isu perpecahan dan ketidak rukunan sebenarnya sudah ada sejak dahulu dimana ada pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan terutama masalah ekonomi dan Justifikasi” ujar Muslih.

Dia juga menjelaskan sebenarnya Papua adalah daerah yang damai, tidak ada perseteruan tapi ada kelompok tertentu yang menciptakan disharmonis untuk mencari keuntungan.

“Seperti Papua yang pada dasarnya Papua adalah sebuah daerah yang tidak sedang mengalami perseteruan, tetapi keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dengan memainkan media sosial olehleh kelompok-kelompok terntu yang ingin mencari keuntungan” imbuh Muslih.

Menurut Muslih, bukan masyarakat Papua itu sendiri yang menyebabkan konflik sosial terjadi, tetapi ada kelompok tertentu yang ingin mengusasi Papua, pemerintah da warga negara harus hadir dalam merajut persatuan NKRI

“Dan menurut saya, bukan masyarakat Papua itu sendiri yang menyebabkan masalah itu terjadi, tetapi ada kelompok tertentu yang ingin mengusasi Papua. Oleh karena itu, pemerintah dan warga negara harus hadir dalam merajut persatuan NKRI karena Papua adalah provisi yang elok, damai  dan selamanya bagian dari Indonesia” ujar Muslih.

Pemteri kedua, Semmy Jenggu ( Tokoh Pemuda Papua) menjelaskan berbicara persatuan yang terjadi di Papua, realnya Papua dari dulu sampai hari ini merupakan daerah yang penuh dengan kedamaian. Hanya saja pasti ada kelompok-kelompok yang mempunya kepentingan khusus terhadap Papua.

“Dari dulu sebenarnya Papua adalah daerah yang damai, tidak ada sentiment sara antara pendatang dan pribumi, hanya saja pasti ada kelompok-kelompok yang mempunya kepentingan yang menciptakan sentimen itu” ujar Semmy.

Dia juga menjelaskan kalau orang Papua sangat menjujung tinggi persatuan, adapaun OPM itu sebenarnya bukan semuanya orang Papua.

“Berbicara perdamaian, orang Papua sangat damai dan menjunjung tinggi persatuan namun banyak yang menyebutkan bahwa masyarakat Papua memiliki organisasi OPM yang inginmemisahkan diri dai Indonesia dimana sebenarnya OPM bukanlah sebuah organisasi dari Papua asli karena pemimpinnya adalah wanita dari Ternate, Ambon, Sumatera dan dari daerah lainnya” imbuh Semmy Jenggu.

Menurutnya orang Papua itu sederhana, tidak neko-neko, menjunjung tinggi kekeluargaan dan persaudaraan, namun ada oknum-oknum yang membuat perselisihan.

“Padahal orang Papua tidak banyak neko-neko, mmereka selalu sederhana. Namun banyak oknum yang mempunyai kepentingan khusus yang akhirnya memicu perselisihan” ujar Semmy Jenggu.

Dia juga menegaskan bahwa di Papua itu sangat menjunjung tinggi perdamaian tanpa membeda-bedakan golongan, suku, ras, agama dan budaya.

“Berbicara perdamaian. Dan perlu saya tegaskan lagi bahwa di Papua itu sangat menjunjung tinggi perdamaian tanpa membeda-bedakan golongan, suku, ras, agama dan budaya karena yang membedakan hanyalah warna kulit dan rambut” imbuh Semmy Jenggu.

Pemateri ketiga, Rizavan  Shufi ( Aktifis Sosial) menjelaskan kalau hidup di Indonesia tidak semudah hidup di negara lain, Indonesia mempunyai keberagaman budaya, warna kulit, agama, dan bahasa.

“Hidup di Indonesia itu tidak seperti hidup di negara lain, itu karena Indonesia mempunyai keberagaman budaya, warna kulit, agama, dan bahasa” ujar pria yang akrab disapa Riky.

Namun menurut dia, untungnya Negara kita disatuka oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika yang mengikat kita semua.

“Tapi syukur alhamdulilah kita diikat dan disatukan dengan Bhineka Tunggal Ika” imbuh Riky.

Namun menurutnya, kalau semboyan tidak dipraktekan secara sungguh-sungguh maka akan percuma, oleh karena itu kita sebagai kaum millineal mempraktekan semboyan tersebut dilapangan.

“Tetapi jika semboyan tersebut tidak dipraktekan secara sungguh-sungguh maka akan percuma. Oleh karena itu kita sebagai kaum millineal mempraktekan semboyan tersebut dilapangan. Kita harus mampu bergaul dengan teman yang tidak hanya dari rasa tau suku yang sama sehinga kedamaian akan tercipta dengan saling memahami dan mengerti” imbuh Riky.

Oct 21, 2019

Apresiasi Seniman dan Pemusik, PMII Unpam Adakan MASEKA




Photo by : Firly Nurdiansyah
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pamulang Cabang Ciputat Melaksanakan kegiatan MASEKA (Malam Senin Kebudayaan) pada hari Minggu, tanggal 20 Oktober 2019 di Depan Halaman Kantor Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan Pukul 19.00 – Selesai

Kegiatan ini mengambil tema “ Ngaji Bareng Kiai Cepu, pemimpin Sejati Pujangga Abadi ”, Acara ini dihadiri dan dimeriahkan oleh Kiai Cepu atau Kusen, ph.D, Tunas Muda, dan Deri Postman.

Kegiatan ini bertujuan untuk selalu menjaga dan melestarikan kebudayaan, serta mengapresiasi seniman dan pemusik yang ada di Tangerang Selatan ini dengan menampilkan karya mereka, bagi para mahasiswa ini sangat penting untuk tetap menjaga kekayaan budaya bangsa Indonesia yang semakin kesini Nampak semakin tergerus oleh kebudayaan-kebudayaan yang masuk dari luar.dan juga Mahasiswa Mahasiswi khususnya Anggota dan Kader PMII Unpam.

Acara ini banyak di hadiri oleh anggota dan Kader dari PMII Unpam juga dari Premordial-premordial yang ada di Universitas Pamulang. Dalam acara ini kiai Cepu banyak sekali memberikan masukan-masukan dengan analogi yang cukup sulit untuk dipahami dan nyeleneh, namun tetap menghibur dan membuat sorak sorai para penonton yang hadir. Kemudian ada Deri Postman dan Tunas Muda menghibur lewat Musik da nada dari Lentera bangsa dengan Dramatikal Puisinya

Menurut Habibi selaku konseptor acara mengatakan
“ Acara ini untuk mengapresiasi musisi musisi local dan seniman seniman local yang selama ini termarjinalkan dengan minimnya ruang apresiasi ,selain itu juga kami sedikit banyak meniru konsep yang ada dimaiyah dan dipadukan dengan situasi dan kondisi yang ada di Kota Tangerang Selatan yang sebenarnya banyak sekali musisi atau seniman local atau jalanan yang sampai saat ini masih termarjinalkan oleh ruang dan waktu , dari awal sebenarnya kita ingin mengangkat kekhasan budaya local , jadi teman-teman yang hadir bisa untuk mendiskripsikan atau menggambarkan bukan hanya secara geografis tetapi juga secara kultur kebudayaan mereka seperti apa, alas an diambilnya tema pemimpin sejati pujangga abadi adalah menyesuaikan kondisi hari ini yang pasca pemilu Presiden dan wakil Presiden yang sempat tegang , kemudian ada satu prisip yang saya pegang adalah apabila politik ini keruh maka puisi yang akan menjernihkan, ketika kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja maka music yang akan menjernihkan dan mengindahkannya”

“ Mengingat Kebudayaan kita yang sangat baik, bahkan mendapatkan nilai plus dari dunia luar sempat terurai ketika Pilpres dan adanya musisi ataupun seniman yang nampaknya kurang eksis di wilayah Tangerang Selatan maka dari acara ini kita memberikan sedikit upaya agar mahasiswa mampu menjadi penengah, mampu menghargai setiap karya, karna sebenarnya yang di butuhkan oleh masyarakat dari Mahasiswa ya karyanya dan gagasannya sebagai agen Perubahan, mampu membaca keadaan masyarakat atau mampu menganalisis keadaan social dan tahu cara memecahkan masalahnya” Tutur Ketua Komisariat PMII Unpam Fitra Anggun Setiawan



Sep 29, 2019

PMII Unpam Lakukan Aksi Solidaritas Untuk Randi


Tangerang Selatan - Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Pamulang (PK PMII UNPAM ) melakukan aksi solidaritas dan do'a bersama untuk almarhum Randi korban penembakan dalam aksi unjuk rasa mahasiswa di Kendari. Kegiatan ini dilakukan sambil membakar lilin di depan Kantor Kecamatan Pamulang, jum'at (27/09/2019).
Ketua Umum Komisariat Universitas Pamulang, Fitra Anggun Setiawan Mengatakan "Kami mengucapkan bela sungkawa untuk sahabat Randi yang sedalam-dalamnya atas kepergian beliau. Almarhum adalah pengurus rayon aktif di fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo. Ia adalah kader terbaik yang menjadi korban penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum kepolisian yang saat itu mengamankan aksi," ungkapnya.

Ia mengutuk keras dan meminta Kapolri untuk mencopot Kapolda Sultra. "Kami mengutuk keras penembakan yang dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab. Kami minta kepada Kapolda Sultra untuk bertanggungjawab dan mendesak agar Kapolri segera mencopor Kapolda Sultra,Kami berharap tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan" tegasnya.

Kegiatan ini Dihadiri oleh puluhan Anggota dan kader PMII UNPAM, acara
ini juga di ramaikan dengan Orasi dan pembacaan puisi, Anggota dan Kader nampak sangat antusias sekali dan Khidmat, Begitupun ketika melaksanakan tahlil dan do'a Bersama.

Sebelum meninggal Randi Sempat berpesan melalui status Whatsappnya
"Mahasiswa sebagai agen of change dan social control. Bila kampus menyibukkanmu dengan aktivitas perkuliahan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ketahuilah rakyat saat ini lebih membutuhkan nalar kritis untuk memperjuangkan segala bentuk ketertindasan," tulis La Randi.
Di profil WhatsApp, La Randi memasang foto profil di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Menurut rekan-rekannya, foto itu diambil saat Randi ikut kegiatan mahasiswa di Palopo, Sulawesi Selatan dan sempat singgah ke Toraja sebelum balik ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.Postingan ini kemudian di screenshot oleh rekan-rekannya karena dianggap sebagai pembakar semangat menjelang aksi demonstrasi. Kemudian, beredar dan dibagikan pagi harinya.
Semoga Sahabat Randi mendapatkan tempat yang terbaik disisinya, Amal dan perbuatannya juga di terima dan semoga perjuangannya menjadi Motivasi bagi kader-kader yang lain untuk tetap menegakan keadilan meski nyawa adalah taruhannya.

MMI: Mereka Adalah Saudara Kita, Mari Bantu Mereka Saat Belajar di Kota Kita




Semarang – Sejumlah pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Masyarakat Moderat Indonesia (MMI) mengadakan diskusi publik memperbincangkan Semangat Kebhinekaan Karakter NKRI : Solusi Konflik Papua. (27/09/2019). Acara yang dilaksanakan di Kafe Eatboss, Semarang dihadiri puluhan masyarakat dari berbagai elemen, baik pemerintah maupun masyarakat sipil.

Dalam sambutannya, panitia menjelaskan kota semarang adalah kota pelajar, banyak perguruan tinggi di Kota Semarang, mahasiswanyapun heterogen terdiri dari berbagai suku dan daerah, salah satunya mereka saudara kita yang dari Papua. Ini alasan kenapa kita mengambil thema diatas, kita belajar dari Surabaya, dan biar kejadian seperti itu tidak terjadi juga di Semarang, mulai sejak dini kita mengadakan diskusi public ini, sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kebhinekaan dan persaudaraan antar mahasiswa.

Diskusi publik ini dipantik Joseph Army sadhyoko M.Hum, dalam pemaparannya dia bercerita pernah memiliki pengalaman pendampingan dalam komunikasi serta memiliki mahasiswa yang berasal dari Papua. Menurutnya mahasiswa asal Papua adalah orang-orang baik dan cerdas.

“Dari lubuk hati yang paling dalam saya katakan bahwa temen-teman Papua adalah orang-orang yang baik dan cerdas di lihat dari persentasi di kelas selama saya mengajar di kampus” ungkap Joseph.

Kita sebagai anak bangsa harus bisa merangkul dan memegang erat mahasiswa Papua saat mereka jatuh bangun dalam perantauan, itu karena kita adalah saudara mereka.

“Mereka yang jauh dari tanah kelahirannya, tentu mengalami jatuh bangun dalam menempuh pendidikan, karena itu mari kita senantiasa merangkul dan memegang erat mereka”, imbuh Joseph.

Narasumber yang lain, Muhammad Dzikrullah H Noho M.H, mencari solusi soal Papua kita harus mengkaji ini dengan sosiologi hukum, menurut saya Papua didalam kacamata hukum tidak bisa di lihat dari probem yang kaku, mereka masih mempunyai adat dan nilia luhur warisan nenek moyang yang dipegang erat sama mereka.

“Papua itu istimewa, adat istiadat dan nilai ajaran leluhur masih dipegang erat, kita tidak bisa menerapkan secara kaku hukum positif terhadap saudara kita dari Papua, harus mengedepankan dialog”, ujar Dzikrulloh.

 Sedangkan pemateri ketiga, Drs. Muhammad Adnan MA memulai pemaparannya dengan cerita pengalaman saat dia menjadi minoritas di Hiroshima.

“Saya pernah menjadi warga minoritas ketika di Hiroshima. Saat itusaya merasakan kesulitan mencari tempat ibadah. Beruntung ada orang mualaf yang berkenan membantu mencari tempat ibadah”, ungkap Adnan.

Dari kisah kisah saya, mereka yang menjadi minoritas seperti saudara kita dari Papua, harusnya diberi kemudahan dalam akses, baik akses ibadah maupun pendidikan.

“Dari kisah ini menurut saya mereka yang minoritas harus kita permudah aksesnya, baik akses ibadah, pendidikan, tempat dan lainnya”, imbuh Adnan.

Sep 26, 2019

PMIPP: Merajut Kembali Persatuan Bumi Cendrawasih




Jayapura – Sebagai salah satu bentuk kepedulian Persatuan Mahasiswa Islam Perempuan Papua (PMIPP) terhadap isu-isu yang berkembang di Papua beberapa bulan ini, organisasi berbasis muslim perempuan itu menyelenggrakan Dialog Publik dengan tema Merajut Kembali Papua Dengan Nilai Pancasila. (26/09/2019). Acara diselenggrakan di Caffe Outentik Jayapura  dan dihadiri oleh para mahasiswa, aktivis, masyarakat, pemuda dan media di Papua.

Untuk memantik jalannya diskusi, Persatuan Mahasiswa Islam Perempuan Papua (PMIPP) Rifki Saputera Masaa, S.E yang dikenal sebagai Pengiat Sosial Papua, Ratih Amalia Lestari, M.Si yang familiar sebagai Cendikiawan Muslimah Papua, dan Saleh Rumatoras, S.H sosok yang lebih akrab dikenal sebagai Aktivis Papua.

Rifki Saputera Masaa mengapresiasi diskusi publik yang diselenggarakan Persatuan Mahasiswa Islam Perempuan Papua (PMIPP), dengan diskusi public tersebut dia berharap dialog ini mampu menjembatani perbedaan-perbedaan persepsi dalam menyelesaikan konflik tersebut

“Saya sangat mengapresiasi atas terselenggaranya diskusi publik ini dengan tema yang dapat saya katakana terlibat dalam memperjuangkan kesatuan dan keutuhan NKRI. Dialog memang tidak bisa menyelesaikan persoalan di Papua secara langsung. Banyak pihak yang harus dilibatkan dalam pelaksanaannya termasuk kelompok yang pro-kemerdekaan. Saya berharap dialog ini mampu menjembatani perbedaan-perbedaan persepsi dalam menyelesaikan konflik tersebut”, ujar Rifki.

Menurut dia, kejadian di Papua kemarin merupakan pemerintah lupa untuk menyelesaiakan persoalan diskriminasi di Papua, dia berharap Kekerasan yang terjadi secara langsung maupun structural harus segera dihentikan.

“Kerusuhan di Papua hari ini menunjukan bahwa pemerintah lupa bahwa persoalan diskriminasi, pelanggaran HAM, dan perbedaan persepsi terkait sejarah di Papua merupakan persoalan yang harus diselesaikan. Kekerasan yang terjadi secara langsung maupun structural harus segera dihentikan dan harus segera dilakukan perbaikan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat Papua”, imbuh Rifki.

Dia juga menegaskan hadirnya Negara di Papua jangan sekedar adanya aparat, tapi juga dalam bentuk perbaikan pelayanan publik yang baik dan memadai untuk masyarakat Papua, terutama pendidikan karena itu adalah hal yang paling penting.

“Negara harus hadir di Papua bukan hanya dalam bentuk keberadaan aparat keamanan, tetapai juga dalam bentuk-bentuk pelayanan publik, misalnya fasilitas kesehatan dan pendidikan yang memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Papua. Pendidikan adalah salah satu hal yang penting dalam pembangunan. Tanpa pendidikan kita tidak akan bangun, kita bisa bangun melalui pendidikan karena dengan pendidikan tembok pun akan hancur”, tegas Rifki.

Ratih Amalia Lestari melihat kericuhan beberapa hari terahir ini, rasanya sangatlah miris sekali. Selain banyaknya kerusakan dan korban atas kejadian tersebut, tetapi juga menimbulkan ketakutan, kegelisahan, dan trauma terutama banyak dirasakan oleh perempuan, mereka mau pergi jadi takut, mau ke tempat umum juga takut.

“Melihat yang terjadi kita sangat miris, dan ini menimbulkan traumatic terhadap perempuan, mereka jadi takut untuk bepergian dan beraktifitas ditempat umum”, ujar perempuan yang juga aktivis PMII ini.

Dalam pandangannya, penyampaian aspirasi dengan cara demonstrasi seperti yang terjadi akhir-akhir ini memang tidak salah, bahkan hal itu juga dilindungi oleh negara. Hanya saja, apakah aspirasi yang disuarakan benar-benar sudah di telaah, didiskusikan, dan di rembukkan bersama. Jangan sampai aksi-aksi yang kita lakukan justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu yang sering kini disebut dengan “penumpang gelap”.

“Demonstrasi memang tidak salah, hanya saja, apakah aspirasi yang disuarakan benar-benar sudah di telaah, didiskusikan, dan di rembukkan bersama, jangan sampai aksi-aksi yang dilakukan justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu”, imbuh Ratih.

Dia juga menjelaskan bahwa kita yang di Papua, baik itu pendatang maupun asli Papua adalah saudara, seperti yang disampaikan Guru dan Bapak kita semua, KH Abdurrahman Wahid, kita adalah saudara dalam kemanusiaan, maka mari kita jaga erat persaudaraan kita ini.

“Kita adalah saudara dalam kemanusiaan, jika kita memang tidak satu suku, tapi kita satu bangsa, jika kita tidak satu bangsa tapi kita sama-sama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi tidak perlu untuk melukai sesama saudara, karna sejatinya kita ini semuanya adalah saudara sebangsa, setanah air”, tegas Ratih

Dalam pandangan M. Saleh Rumatoras, demonstrasi yang berujung kerusuhan telah terjadi belakangan ini di Jayapura, Manokwari, Fak-fak dan lain-lain adalah perpanjangan insiden rasisme di Jawa Timur (Malang dan Surabaya) yang melibatkan mahasiswa Papua. Saudara-saudara mereka yang berada di tanah Papua tidak terima dengan perlakuan tersebut dan turun ke jalan untuk menuntut keadilan.

“insiden yang terjadi kemarin adalah bentuk kekecewaan masyarakat Papua terhadap perlakuan masyarakat Jawa Timur terhadap saudara-saudara mereka disana”, ungkap Saleh.

M Saleh pun mengajak semua yang hadir untuk merefleksikan ulang, apakah apa yang terjadi di Jawa Timur sudah sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Sebagai negara yang menjadikan Pancasila sebagai ideology untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, marilah kita renungkan bersama realitas-realitas yang terkandung di dalam nilai-nilai Pancasila. Apakah kejadian-kejadian di Papua ini pantas terjadi di tengah bangsa yang ber-perikemanusiaan yang adil dan beradab, dan apakah penderitaan rakyat yang berada di pedalaman Papua pantas terjad ditengah bangsa yang berpersatuan Indonesia”, imbuh Saleh.

Diapun berpesan kepada semua saudara-saudaranya, kita boleh mengekpresikan kekecewaan kita dalam bentuk demontrasi, asalkan masih pada koridor hukum dan positif, jangan merusak fasilitas publik dan jangan sampai mengganggu jalan aktivitas masyarakat

“Kita boleh-boleh saja menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi, tetapi perlu di garis bawahi bahwa dalam penyampaian aspirasi tersebut haruslah dilakukan dengan demonstrasi yang positif. Artinya kita jangan melakukan demonstrasi secara anarkis, jangan merusak fasilitas publik dan jangan sampai mengganggu jalan aktivitas masyarakat umum”, ujar Saleh.

Dalam penutupannya, M Saleh berpendapat bahwa konflik kekerasan yang belum mampu diselesaikan secara adil merupakan bukti kegagalan dalam berideologis karena kita masih mengkedepankan pendekatan keamanan dalam penyelesaian konflik di Papua. Padahal seharusnya, kita menggunakan kekuatan dan daya Tarik ideology Pancasila untuk meyakinkan orang Papua tentang makna menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang berideology Pancasila baik dala kata maupun perbuatan.

Sep 23, 2019

Merespon gejolak yang terjadi di Papua, PMII Kota Jayapura adakan Silaturrahim



Jayapura - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Jayapura menyelenggarakan silaturahim tokoh dalam rangka merespon gejolak yang terjadi di Papua. Acara yang diselenggarakan di Rumah Kopi Kotaraja (23/09/2019) bertema Wujudkan Papua Sejahtera Bersama NKRI.

Hadir sebagai pemantik diskusi diantaranya Bobby J.E. Awi, S. STP, M.Si representasi Tokoh Muda Papua, Dr. Eko Siswanto, MH.I representasi Pengamat Politik dan Budaya, dan Ubadillah, M.Pd representasi sebagai Tokoh Cendikiawan Muslim Papua.

Bobby J.E. Awi, S. STP, M.Si mengungkapkan tersentuh dengan tema diskusi kita hari ini, tidak perlu jauh-jauh berbicara mengenai Papua berarti kita berbicara tentang kesejahteraan Indonesia. Indonesia belum dapat dikatakan sepenuhnya sejahtera karena belum sepenuhnya negara memberikan hak-hak yang adil maupun merata kepada rakyatnya, khususnya yang berada di Papua.

"Saya tersentuh dengan tema yang diambil adek-adek PMII, berbicara mengenai Papua berarti kita berbicara tentang kesejahteraan Indonesia. Indonesia belum dapat dikatakan sepenuhnya sejahtera karena belum sepenuhnya negara memberikan hak-hak yang adil maupun merata kepada rakyatnya, khususnya rakyat Papua". Ujar Bobby.

Menurut dia  kejadian-kejadian yang telah terjadi pada akhir-akhir ini merupakan salah satu bentuk ketidakpuasan orang-orang terhadap NKRI karena hal ini bukan hanya terjadi di Papua saja.

"Apa yang terjadi ini ekpresi ketidakpuasan, dan ini tidak hanya di Papua", imbuh Bobby

Menurut Bobby sekarang yang terpenting bagaimana mewujudkan agar Papua sejahtera, hal itu tentu menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang yang berada di tanah Papua. Saya mengajak semua masyarakat yang berada di tanah Papua ini mari kita wujudkan Papua yang sejahtera dan benar sesuai Undang-Undang yang ada di negara kita ini supaya bisa merasakan keadilan, aman, sejahtera, dan lain-lain.

"Penting sekarang adalah bagaimana mewujudkan Papua sejahtera, itu semua tanggung jawab kita, saya mengajak semua  semua masyarakat yang berada di tanah Papua ini mari kita wujudkan Papua yang sejahtera dan benar sesuai Undang-Undang yang ada di negara", ucap Bobby.

Dr. Eko Siswanto, MH.I menjelaskan suatu hal yang nustahil Papua keluar dari NKRI, diapun mengajak semua pemuda tidak terjebak dalam dinamika tentang Papua, dan pemetaan-pemetaan tentang orang Papua, itu semua agar kita bersama-sama menciptakan kesejahteraan.

"Saya yakin hal yang mustahil terjadi jika Papua keluar dari NKRI. Oleh karena itu kita sebagai pemuda tidak boleh terjebak didalam dinamika ini, tidak boleh terjebak dari pemetaan bahasa, orang gunung, dan orang pantai. Saya mengajak sahabat-sahabat ayo kita bersama-sama ciptakan kesejahteraan mulai dari  hal-hal yang kecil. Untuk sejahtera, menurut saya hanya dapat dimulai dengan melakukan hal-hal kecil yang positif yang pastinya sesuai dengan aturan-aturan NKRI", ujar pria yang akrab disapa Mas Eko.

Dia juga menambahkan kalau ada tiga hal yang perlu kita semua pahami dalam upaya mensejahterakan khusunya untuk masyarakat Papua. Ketiga aspek ini harus seimbang dan  harus di samaratakan yaitu aspek ekonomi, aspek ketidakadilan dan aspek keagamaan.

"Ada tiga hal untuk mensejahterakan Papua, yaiitu aspek ekonomi, aspek ketidakadilan dan aspek keagamaan", imbuh Mas Eko.

Mungkin kita semua di sini belum paham konsep ketiga itu, apabila hal tersebut di biarkan terjadi maka akan menjadi pemicu hancurnya NKRI. Oleh karena itu, kita perlu memberlakukan hukum yang adil agar tidak terjadi kekacauan-kekacauan ini khususnya di tanah Papua ini. Kita bersyukur belum ada konflik yang masuk dalam ranah agama dan kita harus mencegah dan menjaga agar hal itu tidak terjadi. Oleh sebab itu, kita sebagai pemuda yang berada di Papua khususnya kita sebagai kader PMII harus menyebarkan Islam sebagai Rahmataanlilalamin yang dapat di terima oleh saudara-saudara kita yang asli Papua yang harusnya bukan malah menjadi ancaman bagi mereka.

Sedangkan menurut Ubadillah, M.Pd, sebetulnya gerbang Indonesia itu bukan di Jakarta tetapi ya Papua itu sendri. Oleh karena itu, ini adalah sebuah gerbang yang harus bisa menarik pengunjung dengan produk yang unggul.

"Gerbang Indonesia sesungguhnya Papua, karena itu sebagai gerbang harus dipoles menarik agar bisa menarik pengunjung, serta masyarakat Papua harus ditingkatkan SDM-nya biar bisa menjadi manusia unggul", ujar  Ubaid.

Menanggapi masih banyaknya muncul stigma oleh orang-orang yang berada di luar Papua yang menganggap bahwa Papua masih tertinggal soal pendidikan, Ubaid berpendapat  bisa jadi mereka tidak paham oleh stigma yang di bangun. Padahal, sebenarnya Papua  lebih unggul soal kemoderan.

"Stigma Papua masih tertinggal pendidikannya adalah cara berfikir mereka yangbtidak paham kepentingan dibalik stigma itu, padahal faktanya Papua lebih unggul soal kemoderanan", tegas Ubaid.M